Kamis, 05 November 2015

UNCONDITIONAL LOVE
           
            Unconditional love, “cinta yang tak bersyarat”.
            Awalnya saya tertawa saat mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang sebenarnya tidak pernah ada. Kata-kata yang diucapakan sebagian orang saat sedang jatuh cinta, dan terbuang begitu saja saat melihat kenytaan-kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.
            Banyak orang yang sedang jatuh cinta berkata “aku tidak perduli keadaanmu sekarang, keadaanmu 2 tahun mendatang, atau masa lalumu. Yang aku tahu aku sayang kamu”. Menurut sebagian orang, kalimat ini menandakan bahwa pasangan kita tidak perduli apa yang akan terjadi pada diri kita, terutama pada saat keadaan yang tidak menyenangkan. Orang sering kali menganggap bahwa ini adalah kalimat pernyataan bahwa “pasangan kita menerima diri kita apa adanya.”
            Namun, pada kenyataannya perkataan itu berubah seiring dengan berjalannya waktu. Saat tubuh kita berubah menjadi lebih tua, mulai muncul keriput-keriput pada wajah, badan mulai membesar, atau keadaan fisik yang sudah tidak sama lagi seperti saat omongan itu terlontar, pasangan kita cenderung melakukan tindakan protes karena mungkin keadaan fisik kita yang tidak baik lagi.
            Perkataan yang dianggap dapat mengungkapkan bahwa pasangan kita menerima diri kita apa adanya, nyatanya hanya sebuah ucapan angin lalu yang hilang saat “angin” itu datang. Kenyataannya, seseorang tidak ada yang bisa menerima diri kita apa adanya, apa masa lalu kita, apa latar belakang kita, siapa keluarga kita, apa status kita, apa kekurangan kita. Cinta melihat “ada apanya diri kita”.
            Namun pemikiran itu semua sirna dari otak saya. Saya menemukan satu sosok pribadi yang ternyata mampu menerima setiap kekurangan saya, menerima saya apa adanya, mampu menerima masa lalu saya dan bahkan mampu memaafkan setiap pelanggaran dan kesalahan saya.
            Sosok pribadi yang rela datang ke dunia, rela menderita dan rela mati untuk saya. Tidak perduli seberapa besar kesalahan dan pelanggaran saya, tidak perduli apakah saya pantas untuk menerima pengampunan. Yang Dia tahu hanya Dia mengasihi saya          dengan “cinta yang tak bersyarat”.
            Saya sungguh terkagum dan takjub. Merasakan cinta yang sebenarnya tidak layak saya dapatkan. Cinta yang sungguh mampu mengubahkan kehidupan saya. Namun semuanya saya terima, saya rasakan, dan bahkan tak henti-hentinya Dia mengasihi saya. Saat saya terpuruk, kecewa dengan orang-orang terdekat, sakit hati karena perkataan dan perilaku orang lain, Dia satu-satunya pribadi yang memeluk erat saya dengan cintaNya yang tak terbatas, memberikan kehangatan yang mampu menenangkan jiwa.
            Saat hati ini tak mampu untuk memaafkan orang yang mengecewakan dan menyakiti hati, namun Dia mengingatkan betapa banyaknya kesalahan saya yang Dia ampuni. Bukan hanya diampuni, melainkan setiap pelanggaran dan kesalahan saya, tidak lagi Dia ingat-ingat dan perhitungkan.
            Begitu banyak pelanggaran yang saya lakukan, tapi tak henti-hentinya pengampunan yang Dia berikan. Tak henti-hentinya cinta yang Dia berikan. Tak henti-hentinya penyertaan yang sempurna yang Dia berikan.
            Banyak kesalahan yang saya lakukan, namun Dia tetap memanggil saya anak. Dia tetap memanggil saya “anak kesayanganNya”. Betapa hancur hati ini mendapatkan “cinta yang tak bersyarat”. Begitu banyak pelanggaran, namun cintaNya begitu sempurna.
            Kalau Dia mencintai saya dengan “cinta yang tak bersyarat”, Dia juga mencintaimu dengan “cinta yang tak bersyarat” juga. Cinta yang tidak akan pernah berubah, walaupun fisikmu berubah, walaupun masa lalumu buruk, walaupun begitu banyaknya pelanggaran yang engkau lakukan. Dia tetap Tuhan yang mencintaimu dengan cinta sejati, cinta yang sempurna, cinta yang tulus. J
“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakkanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak lagi mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25)

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar