Kamis, 05 November 2015

TERUJI SEPERTI EMAS
            Tahukah kamu bahwa emas yang kita lihat skarang, yang dicari oleh orang-orang, merupakan hasil dari suatu proses yang panjang?
            Emas murni muncul karena adanya proses yang panjang. Untuk menghasilkan emas yang murni, emas itu harus dibakar di dalam perapian. Bukan hanya 1x atau bahkan 2x. Tapi emas itu dibakar hingga 7x untuk menghasilkan emas yang murni, emas yang kita lihat sekarang.
            Hidup kita sama seperti emas. Orang-orang yang sukses merupakan orang-orang yang setia, yang tahan uji seperti emas yang dibakar dalam perapian. Perapian ibarat suatu persoalan, masalah dan proses yang terjadi dalam hidup kita. Seringkali orang mau untuk menjadi emas yang murni, tapi tidak mau untuk masuk kedalam perapian, tidak mau melewati setiap proses yang seharusnya dilewati.
            Kadang Tuhan mengizinkan kita untuk keluar dari “zona nyaman” kita. Tuhan mengizinkan masalah dan persoalan terjadi di dalam hidup ini. Namun, sering kali kita marah dan berfikir negative tentang Tuhan. Seringkali cacian dan makian keluar saat masalah itu datang.
            Tapi apakah kamu tahu bahwa masalah yang terjadi mampu mengubah kehidupanmu? Bukankah masalah adalah cara Tuhan untuk membawamu ke level yang lebih tinggi? Berbahagialah kamu yang masih diajar oleh Bapamu di Surga. Ini menandakan kamu masih disayang oleh Bapa mu.
            Proses memang menyakitkan, proses memang menghasilkan cucuran air mata. Ibarat kamu main suatu game, semakin kamu naik ke level yang lebih tinggi, semakin besar tantangan yang akan kamu hadapi. Semakin sulit untuk mencapai target yang kamu ingin capai. Tapi apakah kamu mau setia?
            Saat kamu memilih untuk setia, untuk mau di proses, disaat itulah kehidupanmu akan diubahkan. Saat Tuhan izinkan setiap persoalan terjadi dalam hidupmu, Tuhan juga janjikan penyertaan yang sempurna.
            Dibakar memang sakit, tapi proses yang kamu alami hanya sementara. Proses tersebut akan membuat dirimu bersyukur saat kamu mampu meraih hasil yang tidak kamu duga. Saat kamu setia pada proses, kamu mau untuk dibentuk oleh Tuhan, kamu akan mencapai emas yang murni.
            Kuncinya hanya satu, saat kamu izinkan Tuhan untuk menguasai hidupmu, percayalah Dia Tuhan yang setia. Dia Tuhan yang tahu rancangan apa yang terbaik untuk dirimu. Dia Tuhan yang punya suatu rencana besar yang akan digenapi dalam hidupmu. Tetap setia, tetap tahan uji, karena tahan uji menghasilkan kesetiaan.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, tapi Tuhan telah lewati semua masa. Dia tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Yang kita butuhkan hanya berpegang teguh sama Dia”
UNCONDITIONAL LOVE
           
            Unconditional love, “cinta yang tak bersyarat”.
            Awalnya saya tertawa saat mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang sebenarnya tidak pernah ada. Kata-kata yang diucapakan sebagian orang saat sedang jatuh cinta, dan terbuang begitu saja saat melihat kenytaan-kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.
            Banyak orang yang sedang jatuh cinta berkata “aku tidak perduli keadaanmu sekarang, keadaanmu 2 tahun mendatang, atau masa lalumu. Yang aku tahu aku sayang kamu”. Menurut sebagian orang, kalimat ini menandakan bahwa pasangan kita tidak perduli apa yang akan terjadi pada diri kita, terutama pada saat keadaan yang tidak menyenangkan. Orang sering kali menganggap bahwa ini adalah kalimat pernyataan bahwa “pasangan kita menerima diri kita apa adanya.”
            Namun, pada kenyataannya perkataan itu berubah seiring dengan berjalannya waktu. Saat tubuh kita berubah menjadi lebih tua, mulai muncul keriput-keriput pada wajah, badan mulai membesar, atau keadaan fisik yang sudah tidak sama lagi seperti saat omongan itu terlontar, pasangan kita cenderung melakukan tindakan protes karena mungkin keadaan fisik kita yang tidak baik lagi.
            Perkataan yang dianggap dapat mengungkapkan bahwa pasangan kita menerima diri kita apa adanya, nyatanya hanya sebuah ucapan angin lalu yang hilang saat “angin” itu datang. Kenyataannya, seseorang tidak ada yang bisa menerima diri kita apa adanya, apa masa lalu kita, apa latar belakang kita, siapa keluarga kita, apa status kita, apa kekurangan kita. Cinta melihat “ada apanya diri kita”.
            Namun pemikiran itu semua sirna dari otak saya. Saya menemukan satu sosok pribadi yang ternyata mampu menerima setiap kekurangan saya, menerima saya apa adanya, mampu menerima masa lalu saya dan bahkan mampu memaafkan setiap pelanggaran dan kesalahan saya.
            Sosok pribadi yang rela datang ke dunia, rela menderita dan rela mati untuk saya. Tidak perduli seberapa besar kesalahan dan pelanggaran saya, tidak perduli apakah saya pantas untuk menerima pengampunan. Yang Dia tahu hanya Dia mengasihi saya          dengan “cinta yang tak bersyarat”.
            Saya sungguh terkagum dan takjub. Merasakan cinta yang sebenarnya tidak layak saya dapatkan. Cinta yang sungguh mampu mengubahkan kehidupan saya. Namun semuanya saya terima, saya rasakan, dan bahkan tak henti-hentinya Dia mengasihi saya. Saat saya terpuruk, kecewa dengan orang-orang terdekat, sakit hati karena perkataan dan perilaku orang lain, Dia satu-satunya pribadi yang memeluk erat saya dengan cintaNya yang tak terbatas, memberikan kehangatan yang mampu menenangkan jiwa.
            Saat hati ini tak mampu untuk memaafkan orang yang mengecewakan dan menyakiti hati, namun Dia mengingatkan betapa banyaknya kesalahan saya yang Dia ampuni. Bukan hanya diampuni, melainkan setiap pelanggaran dan kesalahan saya, tidak lagi Dia ingat-ingat dan perhitungkan.
            Begitu banyak pelanggaran yang saya lakukan, tapi tak henti-hentinya pengampunan yang Dia berikan. Tak henti-hentinya cinta yang Dia berikan. Tak henti-hentinya penyertaan yang sempurna yang Dia berikan.
            Banyak kesalahan yang saya lakukan, namun Dia tetap memanggil saya anak. Dia tetap memanggil saya “anak kesayanganNya”. Betapa hancur hati ini mendapatkan “cinta yang tak bersyarat”. Begitu banyak pelanggaran, namun cintaNya begitu sempurna.
            Kalau Dia mencintai saya dengan “cinta yang tak bersyarat”, Dia juga mencintaimu dengan “cinta yang tak bersyarat” juga. Cinta yang tidak akan pernah berubah, walaupun fisikmu berubah, walaupun masa lalumu buruk, walaupun begitu banyaknya pelanggaran yang engkau lakukan. Dia tetap Tuhan yang mencintaimu dengan cinta sejati, cinta yang sempurna, cinta yang tulus. J
“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakkanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak lagi mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25)